Why Leadership?

Saya yakin ini adalah salah satu pertanyaan yang terbersit pertama kali dalam benak Anda ketika membaca blog ini. Tidak mengherankan, sebab saya sendiri pun sudah amat terbiasa melihat berbagai buku maupun seminar yang bertajuk pengembangan kepemimpinan. Mulai dari yang teoritis sampai praktis tersedia dalam beragam kemasan. So, apa lagi yang sebenarnya bisa kita kaji dari bahasan yang satu ini?

Well, kepemimpinan begitu menggairahkan bagi saya untuk diselami karena 2 hal: makna yang terkandung di dalamnya dan kondisi pengkajian yang ada saat ini. Mari kita mulai satu per satu.

Apa yang ada dalam benak Anda jika saya sebut kata ‘kepemimpinan’? Yap! Saya pun kurang lebih sama saya ketika pertama kali mendengar kata yang satu ini. Kata-kata yang populer muncul dalam benak saya pertama kali adalah organisasi, bisnis, negara, tim, masyarakat, dst. Intinya, kepemimpinan selalu berkaitan dengan suatu urusan yang teramat besar dan berkaitan dengan banyak orang. Meskipun ada benarnya, pandangan seperti ini hanya menyentuh sisi terluar dari ilmu pengetahuan yang unik ini.

Loh, sisi terluar?

Tepat! Kemampuan seseorang untuk memimpin orang lain dalam jumlah besar pada hakikatnya adalah hasil dari sebuah perjalanan panjang. Memang benar sih bahwa bakat juga memiliki pengaruh—pernah lihat ‘kan anak kecil yang tanpa diajari ternyata mampu memimpin teman-temannya saat bermain—namun tanpa sebuah eksplorasi dan penggemblengan yang mendalam pada bakat tersebut, jadilah ia sebongkah batu yang belum mengalami sentuhan pemahat profesional. Memimpin orang lain adalah buah dari pohon besar konsep kepemimpinan, sebab ia berakar dari kemampuan sang pemimpin untuk memimpin dirinya sendiri. Di sinilah ajaran yang sejak kecil terngiang di telinga saya pada akhirnya memunculkan makna, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab atas apa yang dipimpinnya”. Hmm…setiap detik dalam hidup ternyata adalah proses kepemimpinan.

Amat pas jika kemudian Arvan Pradiansyah berujar “You are A Leader” pada judul bukunya, karena tepat ketika saya menggunakan ‘kekuatan memilih’ yang saya miliki maka saya menjadi pemimpin, sekalipun baru bagi diri saya sendiri. Dan hanya ketika saya berhasil menggunakan kekuatan memilih ini dengan benar dan bijaksana lah kemampuan kepemimpinan saya dapat berkembang dalam lingkup tanggung jawab yang lebih luas, lebih tinggi, dan lebih besar. “Jangan mimpi untuk memimpin orang lain dengan baik kalau memimpin diri saja belum becus,” kata seorang teman.

Dari sinilah, saya merasa cukup PD untuk berbagi dengan Anda mengenai konsep dan praktik kepemimpinan yang saya pahami baik melalui literatur ilmiah maupun populer dan pengalaman pribadi. Saya sih memang bukan pimpinan perusahaan besar, tokoh masyarakat, apalagi negarawan, namun bukan berarti saya tidak bisa berkontribusi untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik. Perintah menjadi pemimpin di atas menurut saya juga menyiratkan makna bahwa setiap hal diciptakan dengan satu misi. Karenanya, bukan alasan pula bagi saya yang masih ‘orang biasa’ untuk menjalani kehidupan ini dengan biasa pula. Kemampuan saya menulis, misalnya, mengisyaratkan bahwa saya diciptakan dengan misi tertentu menggunakan alat menulis ini. Kalaupun memegang jabatan tertentu ternyata bukanlah jalan hidup yang bisa saya dapatkan, maka menjadi tanggung jawab saya lah untuk menulis hal-hal penting seputar memegang suatu jabatan dengan baik. Toh pada kenyataannya, setiap orang tetap membutuhkan sebuah cermin untuk memberi kita masukan mengenai penampilan kita tiap hari. Nah, peran cermin itulah yang saat ini saya ambil sekiranya saya tidak pernah menjadi pemimpin secara formal sekalipun.

Nah, hal kedua yang menarik dari kepemimpinan adalah kondisi pembahasan kepemimpinan yang ada saat ini, khususnya di Indonesia. Satu hal yang menjadi sorotan saya adalah seringnya kepemimpinan dianggap sebagai sesuatu yang terlalu berat dan karenanya harus dibahas dan dipelajari dengan terlalu serius. Ups, saya tidak sedang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah hal main-main, lho. Saya hanya berpendapat bahwa ilmu penting ini seharusnya bisa menjadi bahasan yang lebih menarik dan menggairahkan ketimbang menakutkan. Di sinilah saya menyodorkan “Leadership Talks” sebagai metode untuk mempelajari kepemimpinan. Meminjam definisi dari Stephen R. Covey bahwa kepemimpinan adalah “menemukan panggilan hati Anda dan menginspirasikan orang lain untuk menemukan panggilan hati mereka”, maka alat kunci dalam mempelajari kepemimpinan terletak pada komunikasi, dan hanya melalui perbincangan yang hangatlah sebuah proses pengembangan dapat berjalan dengan menyenangkan dan penuh makna.

Perjalanan yang saya tawarkan bermula dari leadership knowledge, dilanjutkan dengan leadership practice dan leadership coaching. Ketiganya adalah suatu siklus yang berkesinambungan. Layaknya putaran bola salju yang makin lama makin membesar, semakin banyak pengetahuan yang diserap dapat diterapkan dan ditarik maknanya semakin berkembanglah kemampuan kepemimpinannya. Yang pasti, kesemuanya haruslah merupakan perjalanan yang fun, karena hanya dengan suasana yang menyenangkan lah kita dapat belajar dengan cepat. Ingat sewaktu kita kecil? Kita dapat mengingat setiap detil pengalaman yang baru saja kita alami sebab kita memandangnya sebagai hal yang menyenangkan. Sebaliknya, cukup banyak pelajaran sekolah yang sulit menempel di otak karena sebagian besar begitu membosankan bagi kita.

So, shall we start? Sabar. Tulisan selanjutnya akan membahas satu per satu secara mendetil bagaimana Anda dan saya dapat menjadi pemimpin sesuai dengan panggilan hati kita.

Advertisement

Leave a Comment

Filed under Leadership Talks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s